Seminar Turats Nusantara: PKAY UNISMA Memulai Langkah & Mengambil Peran dalam Melestarikan Warisan Ulama Nusantara

Penulis: M. Indra Riamizad Raicudu, S.Pd

Gelar pesta menyambut Harlah & Haflah Akhirussanah di tahun 2025, Pesantren Kampus Ainul Yaqin Universitas Islam Malang mengepakkan sayap melesat dengan cara menunjukkan jati dirinya di masyarakat. Bisa dikatakan bahwa langkah tersebut sebagai strategi untuk menjemput orientasinya selama ini yaitu meningkatkan kualitas. Kualitas yang dimaksud mencakup, mencetak mahasantri yang kompeten di sesuai dengan konsentrasi yang ditekuni selain sebagai mahasiswa UNISMA serta peran pesantren kepada masayarakat. Hal tersebut telah dimulai sejak beberapa pekan lalu seperti pelatihan ilmu faraidh, pelatihan falakiyah, tasmi’ kubro, penerbitan book chapter untuk program KDU kelas akhir. Kemudian, beralih kepada peran PKAY UNISMA kepada masyarakat yaitu sebagai pelopor Bahtsul Masail Putri Kubro Se Malang Raya, Pasuruan, Jombang, & Kediri serta pengelanan warisan Ulama Nusantara dengan Seminar Nasional Turats Nusantara.

Seminar Nasioal Turats Nusantara diadakan pada Kamis, 10 Juli 2025. Adapun tempat penyelenggaraan acara tersebut berada di Aula Rusunawa 3 Ibnu Khaldun. Hemat penulis orientasi PKAY UNISMA menggelar acara tersebut adalah untuk mengenal khazanah keilmuwan Ulama Nusantara, mengenal metodologi penyuntingan manuskrip, & sedini mungkin memposisikan diri minimal andil dalam melestarikan warisan turats ulama yang berada di lingkungan sekitar. Wujud dari orientasi tersebut PKAY UNISMA menghadirkan dua pakar yang telah menggeluti dunia turats Ulama Nusantara. Kedua narasumber tersebut antara lain Lora Usman Hasan Al Akhyari (Ketua Lajnah Turats Syaikona Kholil) dan Kyai Najib Jauhari, S.Pd., M.Hum (Dosen Departemen Sejarah, Universitas Negeri Malang). Selain sebagai pakar di bidangnya kedua narasumber tersebut juga memegang sekumpulan manuskrip, baik itu diperoleh secara turun temurun ataupun diperoleh dari hasil riset lapangan.

Narasumber pertama dimulai dari Lora Usman. Selaku pemateri, beliau mengulas hal mendasar terkait turats seperti pengertian turats, identifikasi & klasifikasi, pengolahan, penyuntingan naskah, hingga akhirnya diterbitkan sampai kepada pembaca yang budiman. Selain itu, beliau juga mengintegrasikan langkah-langkah tersebut pada kitab-kitab turats karya dari Syaikhona Muhammad Kholil. Ada beberapa yang sudah terpublikasi dan tersebar beberapa diantaranya, Syarhul Kholil ‘ala Matnil Ajurumiyyah, Matnusy Syarif, As-Silah fi Bayani An-Nikah, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, dari turats yang telah diterbitkan lebih banyak yang belum tersentuh, bahkan tercecer dimana-mana tidak terawat. Kemudian beliau berpesan, sungguh sangat disayangkan jika warisan tersebut dianggap barang yang kurang menarik oleh generasi-generasi setelah penulisnya.

Beralih kepada narasumber kedua yaitu Bpk Kyai Najib Jauhari, S.Pd., M.Hum. Selaku pembanding beliau melengkapi apa yang telah disampaikan oleh Lora Usman Al Akhyari sebelumnya. Di awal pemaparan beliau langsung membedah hasil penelitian yang telah beliau lakukan pada tahun 2006 salah satunya mengangkat tentang bukti manuskrip legenda Tengger yang ditulis dengan huruf Arab terbalik. Kemudian beliau juga menampilkan jurnal yang memuat tentang naskah manuskrip dari KH Muhammad Thohir yang berisi tentang berbagai bidang keahlian, seperti penentuan alat kiblat dengan Ilmu Falak yang sangat presisi. Hal-hal seperti ini perlu diketahui oleh generasi terkini baik yang mempelajari, menekuni, dan menyimpan manuskrip bahwasannya khazanah keilmuwan ulama jaman dahulu sangat kaya dan otoritatif dalam banyak bidang. Beliau juga menyampaikan, jangan sampai turats-turats Ulama Nusantara ini jatuh pada orang luar yang akan bernasib seperti nahkah kitab Sirajuth Tholibin syarah dari Minhajul Abidin yang diklaim oleh orang Timur Tengah. Padahal beliau menjelaskan bahwasannya di naskah yang asli terdapat kata pengantar dari Hadratusysyekh KH Hasyim Asy’ari.

Kesimpulan yang dapat diambil dari narasumber yang pertama yaitu warisan terbaik yang tak pernah sirna, namun kurang peminat adalah warisan ilmu pengetahuan. Sedangkan Kesimpulan yang dapat diambil dari pemaparan narasumber kedua adalah agar warisan pengetahuan tidak diklaim & disabotase maka hendaknya peduli dengan cara mempelajarinya. Dengan demikian, genaplah sudah nilai yang diambil dari kedua narasumber tersebut mulai dari awal hingga akhir.