Hari Santri Nasional 2025 Pesantren Kampus Ainul Yaqin Universitas Islam Malang Mengambil Tema “Mengisi Kemerdekaan Indonesia, Menginspirasi Generasi Muda”

Penulis: Iftitah Arzaqiyah & M. Indra Riamizad Raicudu, S.Pd

Beberapa puluh tahun silam saat Negara Indonesia masih seumur jagung, terdapat suatu pergolakan yang merongrong kedaulatan. Kegaduhan itu terjadi dilakukan oleh pihak eksternal yang bertujuan mengembalikan bekas jajahannya. Akan tetapi, barisan rakyat Indonesia bersatu dengan gigih untuk mempertahankannya. Salah satunya ialah melalui fatwa yang dikumandangkan oleh KH Hasyim Asy’ari. Fatwa tersebut disambut baik dan memiliki daya ledak yang luar biasa, hingga puncaknya pertempuran 10 November 1945 yang mana diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Pertempuran masyarakat sipil khususnya kaum santri melawan pasukan Sekutu pecah. Dengan segala kecanggihan dan rasa percaya dirinya melalui ultimatum dan prediksinya yang dikeluarkan menyatakan bahwa musuh dapat meluluhlantakkan hanya dalam beberapa hari saja.

Akan tetapi, fakta di lapangan tidak demikian. Perlawanan tidak ada habisnya. Malah pasukan sekutu yang mulai bingung hingga kehabisan akal saat cadangan amunisi mulai menyentuh ambang batas. Sejatinya fatwa tersebut berisi tentang apa hingga memiliki dampak yang signifikan besarnya? itulah Resolusi Jihad yang dikumandangkan pada 22 Oktober 1945, yang mana berisi tentang kewajiban menjaga kedaulatan negara dengan radius 93 KM. Resolusi tersebut mampu mempecundangi pasukan Sekutu. Dengan tekad, kegigihan, jiwa patriotism, serta tawakkal membuahkan hasil Negara Indonesia tetap berdaulat hingga saat ini. Sebagai penghormatan pemerintah atas jasa para pahlawan dari kalangan pesantren, maka ditetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Oktober 2025, tidak ada ultimatum dari siapapun, kokangan senjata dari musuh, juga tidak ada ancaman yang eksternal yang merongrong kedaulatan. Maka, tugas santri kini ialah “Mengisi Kemerdekaan Indonesia” dengan tekun mengaji, mengasah keilmuan, belajar tanpa henti, hingga menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini “Menginspirasi Generasi Muda”. Lantas bagaimana terkait pandangan miring tentang pesantren? Mungkin ini adalah ucapan bagi kalangan yang kurang literasi, tidak paham sejarah, berpandangan picik, serta melupakan jasa-jasa besar yang telah terwujud. Di sisi lain, pandangan miring tersebut menjadi kritik dalam diri pesantren dan santri untuk kembali mengobarkan semangat juangnya dalam mengisi kemerdekaan Indonesia dengan cara santri turut andil menorehkan prestasi serta gagasan-gagasan inovatif.

Pesantren Kampus Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (PKAY UNISMA), pada bulan Oktober sibuk mempersiapkan diri untuk memperingati hari santri dengan hal-hal positif & eksploratif. Adapun kegiatan tersebut dilakukan secara berkesinambungan beberapa rangkaian acara perlombaan-perlombaan. Perlu diingat juga, ada yang berbeda dari tahun sebelumnya, pada tahun ini PKAY UNISMA mengadakan Talkshow Hari Santri Nasional 2025. Rangkaian acara perlombaan dimulai pada tanggal 18 Oktober lomba tarik tambang dan lomba menghias kamar. Dilanjutkan, tanggal 20-22 Oktober pembuatan video kreatif berisi tentang kehidupan di dunia pesantren. Serangkaian acara tersebut ditutup dengan acara Talkshow Hari Santri Nasional 2025 sebagai puncak peringatan HSN dengan tema “ Internalisasi Nilai Jihad Era Modern Bagi Santri Gen-Z” dengan mendatangkan narasumber yang inspiratif yaitu Gus. H. M. Nailur Rochman, S.I.P., M.Pd & Ning. Hj. Widad Bariroh, S.Si (Direktur & Wakil Direktur PP Bayt Al Hikmah Pasuruan.

Acara malam itu dilangsungkan di Aula Lantai 1 Rusunawa 3 Ibnu Kholdun UNISMA. Tidak lupa juga audiens yang menghadiri sangat melimpah hingga aula tersebut penuh dipadati oleh santri baik dari santri PKAY maupun alumni PP. Bayt Al Hikmah santri dari narasumber Talkshow. Selain itu, di hadiri oleh beberapa tamu undangan dari Pimpinan UNISMA yang pada malam itu diwakili oleh Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd selaku Wakil Rektor 3. Di tengah derasnya guyuran hujan tema pembahasan juga aktual menambah rasa syahdu dan betah berlama-lama menyimak. Di akhir diskusi tentang peran santri gen z di dunia modern ini Gus Amak menuturkan pesan penutup yang mendalam “Manusia dibekali dua kekuatan. Kekuatan yang pertama kekuatan logika. Yang kedua kekuatan rasa. Kekuatan logika adalah alat untuk mencari tahu, menggali, mengeksplorasi sesuatu. Sedangkan rasa untuk menggerakkan perilaku. Seberapapun hebat logika tanpa kita membangun rasa, perilaku kita tidak akan berubah. Oleh karenanya jangan hanya sibuk membangun logika, tapi asah ketajaman rasa”.

Kesimpulannya adalah apa yang diutarakan, apa yang telah diterima oleh kaum santri intinya adalah keseimbangan antara kemampuan memberdayagunakan akal pikiran dan hati untuk merasakan.  Semoga bermanfaat untuk kita semua. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin