Penulis: M. Indra Riamizad Raicudu, S.Pd.
Mari kita mengadakan penjajakan secara acak tentang peristiwa bersejarah apa yang terjadi di Oktober? Jamak semuanya jawaban akan kompak pada momentum 28 Oktober yaitu Sumpah Pemuda atau bahkan ada yang menjawab tidak ada peritiwa apapun. Baru ada peritiwa bersejarah dan dikenang sepanjang sejarah yaitu 10 November sebagai hari pahlawan yang dipelopori oleh Bung Tomo dengan pekik takbirnya yang mengguncang jiwa para pejuang. Tidak ada yang salah dalam hal ini, memang benar ujar-ujar lama berbunyi bahwa sejarah ditulis dengan subjektivitas yang tinggi dan sejarah ditulis oleh para pemenang.


Beberapa tahun belakangan berkat jasa beberapa orang dengan bukti kuat menunjukkan bahwa di bulan Oktober ada sebuah peritiwa yang menjadi kunci dan cikal bakal aksi heroik November. Kelak mengacu pada peritiwa tersebut ditetapkan oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Jika kita mau menoleh 79 th silam pasca kemerdaan Indonesia. Para pemimpin mengalami kebuntuan berpikir yang pada akhirnya meminta petunjuk dan fatwa dari ulama kondang pada waktu itu, Hadratusysyekh KH M Hasyim Asy’ari di Jombang. Beliau berikhtiar mencari jawaban selama beberapa saat, hingga pada 22 Oktober 1945 lahirlah Resolusi Jihad yang berisi tentang kewajiban mempertahankan negara dan berjuang demi keamaannya bersifat wajib ain dengan wilayah sejauh radius jarak shalat qashar.


Berpijak dari fatwa itulah pergerakan melawan tantara sekutu yang diboncengi oleh NICA membara dimana-mana. Kemudian, sekutu mulai terdesak oleh aksi para santri dan pejuang-pejuang lainnya. Mendengar kabar bahwasannya terjadi pergerakan dimana. Sosok pemuda yang nantinya disebut Bung Tomo menyegerakan datang kepada Hadratusysyekh KH M Hasyim Asyari untuk meminta petunjuk pergolakan melawan penjajah yang ingin menancapkan kekuasaan lagi di Bumi Pertiwi. Petunjuk itulah kelak disebut Hari Pahlawan 10 November.


Bentuk euphoria selebrasi atas ditetapkannya sebagai salah satu peritiwa bersejarah dan mengenang perjuangan pahlawan yang rela menyerahkan jiwa, raga, hartanya demi kehidupan merdeka saat ini. Setiap pesantren yang ada di Indonesia pastinya dengan berbagai kreativitas yang ada turut menyambut serat merayakannya. Sama halnya yang dilakukan oleh segenap keluarga besar Pesantren Kampus Ainul Yaqin UNISMA menyusun serangkaian agenda kegiatan memeriahlan Hari Santri Nasional di awal hingga penghujung bulan Oktober. Serangkaian agenda kegiatan tersebut sangat beraneka ragam mulai ranah salaf sampai kontemporer pun ada.


Puncak perayaan HSN PKAY UNISMA dilangsungkan pada Kamis, 31 Oktober 2024 di Aula Rusunawa 3 Ibnu Khaldun. Puncak acara diisi dengan pembacaan maulid, pengajian umum, pembagian hadiah lomba, serta makan bersama seluruh santri dan pengurusnya. Malam itu, PKAY UNISMA menghadirkan salah satu tokoh pengurus NU tingkat Kota Batu yaitu KH Hazum Sirajuddin, SH. Sebagai pembicara utama yang memberikan wejangan terkait nilai-nilai yang terkandung dari adanya Hari Santri. KH Hazum Sirajuddin, SH. Berpesan bahwa menjadi santri merupakan sebuah kebanggan tersendiri.


Akan tetapi, reaktualisasi dari perjuangan zaman dahulu di masa sekarang haruslah lebih giat lagi utamanya dalam hal ngaji dan ngabdi. Sebab, pada masa sekarang semuanya yang serba mudah tentu mudah juga mengalami gangguan. Maka dari itu beliau berpesan kepada kita semua agar selamat dengan mengutip pendapatnya Imam Al-Ghazali tentang kriteria santri yaitu 1) Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri, 2) Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri, 3) Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri, 4) Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri. Dari beberapa kriteria yang ada, seyogianya kita sebagai santri merenungi masing-masing dari diri kita. Setelah mendapatkan jawaban yang pas akan kriteria yang ada, barulah dapat menentukan langkah kedepannya dengan selamat.
Semoga dengan adanya momentum Hari Santri di tahun 2024 ini menjadi tonggak penyemangat untuk ngaji, ngaji, dan ngabdi. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

