Penulis: Dwi Rahmatul Azizah (Divisi Jurnalistik TIMES PKAY UNISMA)
Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) merupakan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang telah membentuk wajah politik dan sosial bangsa hingga kini. Di balik tragedi tersebut, peran santri, sebagai representasi umat Islam, ternyata tidak bisa diabaikan dalam konteks menanggapi ancaman terhadap ideologi dan keutuhan negara. Dibalik pembantaian dan kekejaman PKI pada waktu yang berpuncak pada 30 September 1965. PKI atau oknumnya tidak segan untuk menanamkan ideologi kepada masyarakat pelosok desa yang miskin dan kurang berpendidikan untuk memberontak terhadap tokoh-tokoh agama sekitarnya.
Hasutan-hasutan ini dibalut dengan iming-iming materi seperti buat apa kerja, kamu tetap miskin, sedangkan orang tersebut hanya modal babad alas saja atau punya tanah. Seharusnya dibagi rata, agar dapat tanah yang sama. Yang kedua, pemberian hiburan-hiburan rakyat. Dengan hasutan-hasutan tersebut berhasil mendapatkan tempat di hati golongan kaum tidak berpendidikan. Tidak semua kalangan mendukung, ada kalangan yang berpendidikan diisi oleh santri yang sudah berbaur di masyarakat. Kemudian bergabung dalam barisan Gerakan Pemuda Ansor.
Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) merupakan organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, dan keagamaan yang didirikan pada tahun 1934 dan berada dibawah naungan Nahdlatul Ulama. GP Ansor menumpas beberapa wilayah pemberontakan PKI seperti di Bojonegoro, Lumajang, kediri, dan beberapa wilayah di Jawa Timur. Bukan tanpa sebab, penumpasan yang dilakukan oleh GP Ansor telah didukung penuh oleh militer Indonesia. Karena pemberontakan yang dilakukan oleh PKI sudah menyalahi ideologi bangsa dan mengancam keselamatan banyak umat.
PKI juga menargetkan pondok pesantren dalam setiap pemberontakannya, hal ini disebabkan oleh para Ulama dan santri yang telah menanamkan cinta Tanah Air dan rela berjihad demi keutuhan dan kesatuan Bangsa. Hal inilah yang membuat golongan pesantren menjadi sulit untuk dihasut oleh oknum PKI, sehingga PKI merasa jengkel dan memiliki dendam tersendiri terhadap lingkungan pesantren. Santri pada masa itu bukan hanya diam, tetapi santri memiliki kesadaran penuh akan isu politik yang sedang terjadi dan merasa perlu untuk melawan paham komunis yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam. Sehingga banyak santri yang berperan aktif dalam menanggulangi pengaruh PKI di masyarakat.
Peristiwa G30S/PKI tidak hanya menjadi catatan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya peran santri dan umat Islam dalam mempertahankan ideologi dan keutuhan negara. Santri yang telah berjuang dalam konteks ini menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sebagai penerus ilmu agama, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan. Dalam menghadapi tantangan masa depan, semangat dan kontribusi santri harus terus dikenang dan dihargai.
